WHO Sebut 7 Faktor Risiko Baru Demensia, Polusi Udara Bisa Tingkatkan Ancaman
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap sejumlah faktor risiko baru yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami demensia. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah paparan polusi udara.
Dalam laporan terbarunya, WHO menyebut bahwa risiko demensia tidak hanya berkaitan dengan faktor usia, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai kondisi kesehatan dan lingkungan sepanjang hidup seseorang.
Selain polusi udara, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko demensia meliputi kurangnya aktivitas fisik, gangguan pendengaran yang tidak ditangani, tekanan darah tinggi, diabetes, hingga gaya hidup yang kurang sehat.
Demensia merupakan kondisi yang menyebabkan penurunan fungsi otak, terutama pada kemampuan mengingat, berpikir, dan melakukan aktivitas sehari-hari. Penyakit Alzheimer menjadi salah satu bentuk demensia yang paling banyak ditemukan.
WHO menekankan bahwa sebagian risiko demensia sebenarnya dapat dikurangi melalui pencegahan sejak dini, seperti menjaga pola hidup sehat, rutin berolahraga, mengontrol penyakit kronis, serta mengurangi paparan lingkungan yang berisiko.
Temuan mengenai polusi udara juga menjadi perhatian karena kualitas udara yang buruk dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara luas, termasuk sistem pernapasan dan fungsi otak.
Dengan meningkatnya jumlah populasi lanjut usia di dunia, pencegahan demensia menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang perlu mendapat perhatian lebih.
Masyarakat kembali menghadapi fenomena sulitnya menemukan beras premium di sejumlah pasar. Padahal, pemerintah menyebut ketersediaan stok beras secara nasional masih berada dalam kondisi aman.
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya karena terjadi perbedaan antara jumlah stok yang tersedia dengan kondisi di lapangan. Beras premium disebut masih ada, namun tidak mudah ditemukan oleh konsumen di berbagai tempat.
Sejumlah pihak menduga kelangkaan tersebut berkaitan dengan distribusi, pola penjualan, hingga strategi pelaku usaha dalam menyalurkan beras ke pasar. Perbedaan harga antara beras premium dan jenis beras lainnya juga menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan.
Pemerintah terus melakukan pemantauan untuk memastikan pasokan beras tetap tersedia dan masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang wajar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ketersediaan stok tidak hanya bergantung pada jumlah produksi, tetapi juga bagaimana proses distribusi berjalan hingga sampai ke tangan konsumen.