China semakin memperkuat ambisinya dalam persaingan kecerdasan buatan (AI) melalui pembangunan pusat data berskala besar. Salah satu wilayah yang menjadi sorotan adalah Ulanqab, Mongolia Dalam, yang kini berkembang menjadi pusat infrastruktur AI dengan hampir 90 pusat data direncanakan dibangun di kota berpenduduk kurang dari dua juta jiwa itu.
Sejumlah perusahaan teknologi China, termasuk Huawei, Kuaishou, dan VNET, terlibat dalam perkembangan kawasan tersebut. Pembangunan pusat data berlangsung cepat, dengan sebagian besar kawasan industri data Bayin terbentuk hanya dalam waktu sekitar dua tahun.
Salah satu keunggulan China adalah ketersediaan lahan luas, energi yang relatif murah, serta kapasitas pembangunan infrastruktur yang cepat. Angin dan sinar matahari yang melimpah di Mongolia Dalam juga mendukung penggunaan energi terbarukan untuk mengoperasikan pusat data yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar.
Meski begitu, China masih menghadapi tantangan dalam persaingan AI dengan Amerika Serikat. Menurut riset Stanford University yang dikutip CNN, pada 2025 AS memiliki sekitar 10 kali lebih banyak pusat data AI dibandingkan China. Perusahaan China juga masih kesulitan mendapatkan chip AI tercanggih akibat pembatasan ekspor Amerika Serikat.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, perusahaan teknologi China mencoba menggabungkan banyak chip domestik agar dapat menghasilkan kemampuan komputasi yang lebih besar. Namun, pendekatan ini dapat membutuhkan konsumsi listrik yang lebih tinggi.
Pemerintah China juga mendorong pemanfaatan energi terbarukan yang berlebih untuk mendukung pembangunan pusat data melalui strategi Eastern Data, Western Compute. Program ini menghubungkan pusat produksi data dan komputasi di wilayah barat dengan kebutuhan layanan digital di wilayah timur.
Di Ulanqab, hampir setengah pasokan listrik jaringan disebut berasal dari tenaga angin dan surya. Salah satu proyek yang dikembangkan perusahaan Envision bahkan menargetkan lebih dari 80 persen kebutuhan listrik pusat datanya berasal langsung dari ladang angin milik perusahaan.
Namun, ekspansi tersebut tetap memiliki tantangan. Lokasi pusat data yang terlalu jauh dari pengguna dapat menghambat pemrosesan tertentu, sementara proyek yang dibangun tanpa perangkat keras atau permintaan memadai berisiko menjadi pusat data yang tidak optimal.
Meski masih tertinggal dari AS dalam akses chip canggih dan investasi swasta, China berupaya memanfaatkan keunggulan energi serta pembangunan infrastrukturnya untuk memperkuat posisi dalam perlombaan AI global.