Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali menjadi sorotan setelah fenomena bara api bawah tanah terekam dalam sebuah video yang diunggah di media sosial pada Senin (12/10/2026).
Kebakaran bawah tanah dapat terjadi ketika api merambat ke lapisan gambut dan membakar material organik di bawah permukaan. Bara yang tersembunyi membuat api sulit dideteksi dan dipadamkan, bahkan ketika kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi tim gabungan dan relawan yang berupaya memadamkan api. Petugas perlu memastikan bara di dalam tanah benar-benar padam agar kebakaran tidak terus berlangsung di bawah permukaan.
Di sisi lain, Palangka Raya juga menghadapi dampak kabut asap karhutla yang dilaporkan telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Lebih dari 10 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat, sementara kualitas udara disebut berada dalam kategori berbahaya.
Fenomena bara api bawah tanah dan kondisi kabut asap ini kembali menyoroti tantangan penanganan karhutla, terutama di wilayah bergambut yang memungkinkan api bertahan meski tidak terlihat dari permukaan.