Sejumlah negara Eropa memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan konflik bersenjata di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ancaman Rusia. Pemerintah di berbagai negara mengimbau warga menyiapkan persediaan kebutuhan pokok, memahami prosedur evakuasi, hingga mengetahui lokasi perlindungan darurat.
Langkah tersebut diambil menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022. Ketidakpastian mengenai dukungan keamanan Amerika Serikat juga mendorong negara-negara Eropa memperkuat pertahanan dan kesiapan masyarakat menghadapi berbagai kemungkinan krisis.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sebelumnya menyerukan perubahan pola pikir masyarakat Eropa agar lebih siap menghadapi ancaman keamanan. Ia menilai negara-negara anggota perlu meningkatkan kesiapan pertahanan di tengah perubahan situasi geopolitik.
Pada Maret 2025, Komisi Eropa menerbitkan panduan kesiapsiagaan yang mengimbau masyarakat menyimpan persediaan makanan, air, dan kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan selama minimal 72 jam ketika terjadi keadaan darurat.
Jerman turut memperbarui pedoman pertahanan menyeluruh yang menjelaskan perubahan dalam kehidupan masyarakat apabila terjadi perang. Pedoman tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan warga menghadapi kemungkinan gangguan terhadap layanan publik dan infrastruktur penting.
Sementara itu, Swedia mendistribusikan buku panduan berjudul If Crisis or War Comes atau Jika Krisis atau Perang Datang kepada jutaan rumah tangga. Panduan tersebut berisi petunjuk menghadapi berbagai keadaan darurat, mulai dari serangan udara, evakuasi, hingga ancaman nuklir.
Warga Swedia juga diimbau mengetahui langkah perlindungan diri ketika terjadi serangan, termasuk berlindung di dalam ruangan, menutup jendela dan ventilasi apabila diperlukan, serta mengikuti informasi resmi melalui saluran komunikasi darurat.
Finlandia, yang berbatasan langsung dengan Rusia sepanjang sekitar 1.340 kilometer, telah lama membangun sistem perlindungan sipil. Negara tersebut memiliki lebih dari 50 ribu tempat perlindungan yang mampu menampung sekitar 4,8 juta orang dari total populasi sekitar 5,6 juta jiwa.
Pada November 2024, Kementerian Dalam Negeri Finlandia juga menerbitkan panduan menghadapi berbagai krisis, termasuk pemadaman listrik berkepanjangan, gangguan telekomunikasi, cuaca ekstrem, dan konflik militer.
Pakar keamanan Claudia Major dari German Marshall Fund menilai kesiapsiagaan masyarakat perlu dipandang serius. Menurutnya, ancaman tidak hanya berupa serangan militer langsung, tetapi juga perang hibrida, termasuk serangan siber dan bentuk tekanan lain di antara situasi damai dan perang terbuka.
Meski demikian, langkah kesiapsiagaan tersebut tidak berarti perang dipastikan akan terjadi. Pemerintah negara-negara Eropa mendorong masyarakat tetap waspada tanpa panik, sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi gangguan layanan penting dan keadaan darurat.