Dominasi Google sebagai mesin pencari terbesar di dunia mulai menghadapi persaingan baru dari teknologi kecerdasan buatan (AI). OpenAI mengungkapkan bahwa penggunaan ChatGPT untuk mencari informasi kini berkembang pesat dan mulai mendekati skala mesin pencari konvensional.
Berdasarkan laporan CNBC Indonesia pada Rabu (4/11/2026), volume pencarian yang menyerupai aktivitas pencarian di ChatGPT saat ini telah mencapai sekitar 20 persen dari total volume pencarian Google.
Angka tersebut menunjukkan perubahan kebiasaan pengguna internet. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan Google untuk menemukan informasi melalui berbagai situs, kini sebagian pengguna mulai memilih bertanya langsung kepada chatbot AI.
Consumer Product Lead ChatGPT, Adam Fry, mengungkapkan pencapaian tersebut dalam wawancara bersama Alex Kantrowitz melalui Big Technology di New York, Amerika Serikat.
Menurut Fry, jumlah permintaan atau search-like queries di ChatGPT secara kasar telah mencapai seperlima dari volume pencarian Google.
Ia menilai pencapaian tersebut cukup signifikan, mengingat fitur pencarian web ChatGPT baru dikembangkan secara intensif sekitar satu setengah tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, volume pencarian ChatGPT tersebut juga disebut telah melampaui Bing milik Microsoft yang berada di kisaran 5 persen dari volume pencarian Google.
Pertumbuhan penggunaan ChatGPT juga terlihat dari peningkatan jumlah pengguna aktif mingguannya atau weekly active users.
Dalam wawancara tersebut, Adam Fry menyebut jumlah pengguna aktif mingguan ChatGPT meningkat dari sekitar 1 miliar menjadi 1,2 miliar hanya dalam kurun waktu 60 hari.
Artinya, terdapat penambahan sekitar 200 juta pengguna dalam dua bulan. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin luasnya penggunaan teknologi AI dalam aktivitas sehari-hari.
ChatGPT tidak lagi hanya digunakan untuk membantu menulis, merangkum teks, atau membuat kode pemrograman. Pengguna juga mulai memanfaatkannya untuk mencari informasi terbaru dan mendapatkan jawaban secara langsung.
Perubahan perilaku pengguna menjadi salah satu faktor yang mendorong persaingan antara Google dan ChatGPT.
Jika sebelumnya pengguna harus memasukkan kata kunci, membuka beberapa tautan, lalu membandingkan informasi dari berbagai situs, chatbot AI menawarkan pengalaman berbeda melalui jawaban yang disusun dalam satu percakapan.
Pengguna dapat mengajukan pertanyaan lanjutan tanpa harus memulai pencarian dari awal. Hal ini membuat ChatGPT semakin menarik untuk kebutuhan pencarian informasi, termasuk topik keuangan, kesehatan, hingga informasi mengenai tokoh dan tempat.
Meski demikian, penggunaan AI untuk mencari informasi tetap membutuhkan sikap kritis. Jawaban yang dihasilkan chatbot perlu diperiksa kembali, terutama untuk informasi penting yang membutuhkan sumber tepercaya dan data terbaru.
Persaingan ini tidak hanya berlangsung antara Google Search dan ChatGPT. Google juga mengembangkan Gemini sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat posisinya di industri kecerdasan buatan.
Di sisi lain, OpenAI terus memperluas kemampuan ChatGPT. Selain pencarian berbasis teks, Adam Fry juga menyebut fitur pembuatan gambar ChatGPT telah menghasilkan sekitar 1,5 miliar gambar setiap minggu.
Sementara itu, fitur Voice Mode dilaporkan memiliki sekitar 250 juta pengguna aktif mingguan.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan perusahaan teknologi kini tidak lagi terbatas pada mesin pencari. Kemampuan AI dalam memahami pertanyaan, menyajikan informasi, memproses gambar, dan berinteraksi melalui suara menjadi bagian penting dalam perebutan pengguna.
Meski angka penggunaan ChatGPT terus meningkat, data tersebut belum berarti Google telah kehilangan posisinya sebagai mesin pencari utama. Namun, pertumbuhan pencarian berbasis AI menunjukkan bahwa cara masyarakat menemukan informasi di internet sedang mengalami perubahan besar.