Sedikitnya 31 warga sipil tewas setelah serangan udara Rusia menghantam sebuah gedung sekolah di Desa Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, Ukraina bagian tenggara, pada Senin (2/11/2026).
Bangunan tersebut sebelumnya merupakan sekolah, tetapi telah dialihfungsikan menjadi tempat penampungan warga sekaligus pusat distribusi bantuan kemanusiaan. Saat serangan terjadi, sejumlah warga berkumpul untuk menerima bantuan yang dibagikan secara rutin.
Menurut laporan CNN pada Selasa (3/11/2026), Gubernur wilayah Zaporizhzhia, Mykhailo Semikin, menyampaikan bahwa sedikitnya 31 orang telah dipastikan meninggal dunia. Sementara itu, 48 orang lainnya masih belum ditemukan dan operasi pencarian terus berlangsung.
Pihak berwenang Ukraina menyebut serangan terjadi dalam dua gelombang. Sedikitnya sembilan bom udara dilaporkan menghantam kawasan tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan serangan pertama terjadi ketika warga mulai berdatangan untuk mengambil bantuan kemanusiaan. Serangan berikutnya kemudian menghantam tempat perlindungan di bagian bawah bangunan.
Gubernur Semikin menjelaskan bahwa warga berlindung di ruang bawah tanah yang diperkuat dan dirancang untuk menghadapi sebagian besar serangan. Namun, kekuatan ledakan menyebabkan struktur beton bangunan runtuh dan kebakaran terjadi.
Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah petugas yang datang untuk membantu proses evakuasi. Sedikitnya dua petugas penyelamat dan empat anggota kepolisian dilaporkan meninggal dunia.
Mereka diduga terjebak ketika serangan lanjutan terjadi saat proses penyelamatan berlangsung. Peristiwa ini kembali memperlihatkan risiko besar yang dihadapi warga sipil maupun petugas darurat di wilayah konflik.
Tim penyelamat terus melakukan pencarian di antara reruntuhan bangunan. Namun, proses tersebut menghadapi tantangan karena kondisi lokasi yang rusak parah dan ancaman serangan lanjutan.
Misi Pemantauan Hak Asasi Manusia PBB di Ukraina (HRMMU) turut menyoroti serangan tersebut. Dalam pernyataan pada 3 November 2026, PBB menyebut puluhan warga sipil menjadi korban ketika berkumpul untuk menerima bantuan kemanusiaan.
Kepala HRMMU, Danielle Bell, mempertanyakan apakah pasukan Rusia mengetahui adanya kegiatan distribusi bantuan di lokasi tersebut atau gagal mengambil langkah pencegahan sebelum melancarkan serangan.
PBB menegaskan bahwa hukum humaniter internasional melindungi warga sipil dan objek sipil dari serangan. Aturan tersebut juga mewajibkan pihak yang berkonflik mengambil langkah yang memungkinkan untuk mengurangi risiko jatuhnya korban sipil.
PBB menyatakan masih melakukan verifikasi terhadap jumlah pasti korban dan dampak serangan tersebut.
Presiden Volodymyr Zelensky mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang mengerikan. Ia kembali meminta dukungan internasional agar Ukraina memiliki kemampuan lebih kuat untuk melindungi wilayah udaranya.
Serangan di Komyshuvakha terjadi di tengah berlanjutnya konflik Rusia dan Ukraina serta upaya diplomatik untuk mendorong penyelesaian perang.
Pemerintah Rusia belum memberikan komentar publik mengenai serangan tersebut dalam laporan yang dirujuk.
Insiden ini menambah daftar serangan mematikan terhadap warga sipil sejak invasi Rusia ke Ukraina. Di tengah konflik yang belum berakhir, warga yang masih bertahan di wilayah dekat garis depan terus menghadapi ancaman terhadap keselamatan mereka.