Harga emas dan perak dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Kenaikan tersebut terjadi di tengah pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) setelah hasil pemilu sela AS memengaruhi sentimen pasar keuangan global.
Mengutip data perdagangan yang dilaporkan Reuters, harga emas spot melonjak 3,4 persen menjadi US$4.059,95 per troy ounce. Sementara itu, emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman Desember ditutup naik 3,4 persen ke level US$4.073 per troy ounce.
Kenaikan tersebut membawa harga emas kembali menembus level psikologis US$4.000 per troy ounce setelah sebelumnya mengalami tekanan hingga menyentuh US$3.869,85 pada 30 Oktober 2026.
Tidak hanya emas, harga perak spot juga mencatat penguatan sebesar 4,9 persen menjadi US$52,23 per troy ounce.
Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga logam mulia adalah pelemahan dolar AS. Indeks dolar dilaporkan turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan setelah hasil pemilu sela menunjukkan Partai Demokrat berhasil merebut kendali atas DPR dan Senat AS.
Perubahan komposisi politik di Kongres memunculkan ekspektasi baru terhadap arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump. Investor mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kebuntuan politik dalam pembahasan kebijakan ekonomi dan fiskal.
Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan mata uang dan aset keuangan global.
Pelemahan dolar membuat emas dan perak yang diperdagangkan menggunakan mata uang tersebut menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Situasi ini dapat meningkatkan daya tarik logam mulia di pasar internasional.
Selain perkembangan politik Amerika, pelaku pasar juga memperhatikan prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Suku bunga menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi harga emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung menghadapi tekanan ketika suku bunga tinggi membuat instrumen investasi lain lebih menarik.
Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Namun, prospek kebijakan moneter AS masih belum sepenuhnya jelas. Data ketenagakerjaan swasta yang dirilis ADP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta AS meningkat selama Oktober.
Investor kini menunggu laporan ketenagakerjaan nonpertanian atau nonfarm payrolls yang dijadwalkan terbit pada Jumat (6/11/2026). Data tersebut dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan The Fed berikutnya.
Penguatan tidak hanya terjadi pada emas dan perak. Sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan harga dalam perdagangan yang sama.
Harga platinum spot naik 5,6 persen menjadi US$1.496,40 per troy ounce. Sementara itu, paladium melonjak 7,5 persen ke posisi US$1.004 per troy ounce.
Pergerakan serentak tersebut memperlihatkan meningkatnya minat investor terhadap komoditas logam mulia di tengah perubahan sentimen pasar global.
Meski demikian, pergerakan harga masing-masing komoditas tetap dipengaruhi oleh faktor yang berbeda, termasuk kebutuhan industri, pasokan, dan permintaan investasi.
Di balik kenaikan tajam tersebut, pasar logam mulia masih menghadapi sejumlah risiko. Kekhawatiran inflasi, perkembangan konflik geopolitik, serta kemungkinan perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan harga dalam waktu dekat.
Harga minyak mentah Brent yang masih berada di atas US$100 per barel juga menjadi perhatian investor karena dapat mempertahankan tekanan inflasi global.
Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang memberikan dukungan terhadap harga emas.
Sementara itu, investor masih menunggu perkembangan data ekonomi AS untuk memperkirakan langkah selanjutnya dari bank sentral.
Dengan demikian, lonjakan harga emas dan perak pada perdagangan 4 November belum tentu menjadi jaminan kenaikan akan terus berlanjut. Pergerakan berikutnya masih bergantung pada perkembangan ekonomi, politik, dan kebijakan moneter Amerika Serikat.