Istanbul, Turki, dilanda banjir besar setelah hujan deras yang disebut sebagai curah hujan tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1942. Hujan mulai mengguyur kota pada Rabu pagi dan semakin intens sepanjang hari, memicu banjir bandang serta menyeret sejumlah mobil akibat derasnya arus air.
Gubernur Istanbul, Davut Gul, menyatakan beberapa wilayah mencatat curah hujan tertinggi sejak pencatatan dilakukan. Hingga Kamis, pemerintah setempat masih berupaya menangani dampak banjir di tengah hujan yang terus berlanjut.
Sedikitnya dua orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Salah satunya adalah seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun yang tersengat listrik setelah menginjak genangan air di kawasan Balat. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Sementara itu, tiga orang lainnya dilaporkan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Dampak banjir juga menyebabkan gangguan transportasi udara. Kementerian Transportasi Turki melaporkan 43 penerbangan menuju Bandara Istanbul dialihkan, begitu pula tiga penerbangan menuju Bandara Sabiha Gökçen. Bandara Sabiha Gökçen juga sempat menghentikan sementara keberangkatan pesawat akibat angin kencang.
Badan penanggulangan bencana Turki, AFAD, membuka pusat krisis untuk menangani berbagai insiden. Hingga Rabu malam, tercatat 1.277 kejadian banjir, 15 tanah longsor, 47 orang terjebak, serta dua atap bangunan rusak akibat angin kencang.
Pemerintah setempat menutup sekolah-sekolah di Istanbul hingga Senin dan mengimbau warga untuk tetap berada di rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Warga yang tinggal di bangunan bawah tanah juga diminta berpindah ke lantai yang lebih tinggi demi keselamatan.
Hujan deras diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir pekan, sehingga masyarakat diminta menjauhi aliran sungai, terowongan bawah jalan, serta kawasan lain yang rawan banjir.