Delapan orangutan yang terancam punah dilepasliarkan ke hutan lindung di Kalimantan Barat setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghancurkan sebagian habitat mereka. Pelepasliaran dilakukan pada 8 Oktober 2026 di Hutan Lindung Batu Nyambu.
Menurut Yayasan Inisiasi Rehabilitasi Alam Indonesia (YIARI), delapan orangutan tersebut terdiri dari tiga induk betina bersama anaknya serta dua orangutan jantan remaja. Mereka sebelumnya diselamatkan dari wilayah Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara yang terdampak kebakaran pada Agustus hingga September.
Kebakaran memutus jalur penghubung antarkawasan hutan dan mengurangi sumber makanan. Akibatnya, orangutan terpaksa masuk ke area perkebunan yang dihuni manusia untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Saat ditemukan, beberapa di antaranya mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi, meski tidak menunjukkan luka bakar atau cedera yang mengancam nyawa.
Salah satu orangutan yang diselamatkan adalah Mama Man dan anaknya, Man. Keduanya telah dipantau selama berbulan-bulan di kawasan hutan kecil yang dikelilingi perkebunan. Kebakaran yang meluas dan asap tebal membuat mereka tidak memiliki jalur aman untuk kembali ke hutan yang lebih luas.
Sebelum dilepasliarkan, seluruh orangutan menjalani pemeriksaan dokter hewan dan observasi di pusat rehabilitasi YIARI untuk memastikan kondisi mereka cukup sehat. Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih karena sebagian besar kawasannya masih terjaga serta memiliki sumber makanan, air, pohon untuk bersarang, dan koneksi dengan hutan di sekitarnya.
Direktur Operasional YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan pemilihan lokasi dilakukan agar orangutan yang diselamatkan memiliki peluang bertahan hidup di habitat alaminya. Sementara itu, CEO YIARI, Karmele Llano Sanchez, menyebut pemindahan tersebut menjadi pilihan terakhir setelah habitat asli mereka tidak lagi aman.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dilaporkan memburuk tahun ini seiring fenomena El Niño yang memperpanjang musim kering. Pembukaan lahan dengan api dan keterbatasan pasokan air juga menjadi faktor yang menyulitkan upaya pemadaman.
Kementerian Kehutanan Indonesia menyebut lebih dari 270 satwa liar di wilayah Kalimantan bagian Indonesia telah diselamatkan, direhabilitasi, atau diarahkan menuju habitat yang lebih aman hingga Sabtu. Dari jumlah tersebut, 46 orangutan diselamatkan oleh YIARI.
Sebelumnya, seekor orangutan jantan bernama Sampurna, yang diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, ditemukan kesulitan bernapas di perkebunan kelapa sawit di Ketapang pada awal September. Ia meninggal beberapa jam setelah diselamatkan.
Kasus ini kembali menyoroti dampak karhutla terhadap satwa liar, terutama ketika habitat alami mereka rusak dan kawasan hutan aman untuk menampung satwa yang terusir semakin terbatas.