Pemilu parlemen Israel yang berlangsung pada Selasa (27/10/2026) belum menghasilkan kepastian mengenai siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya. Penghitungan awal menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu unggul, tetapi belum mengamankan mayoritas di parlemen. Sementara itu, kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot masih berupaya menghimpun dukungan untuk menantang kekuasaan Netanyahu.
Pemilu ini menjadi pemilihan nasional pertama Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang di Gaza dan rangkaian konflik regional. Hasil pemungutan suara menjadi ujian bagi kepemimpinan Netanyahu setelah muncul kritik terkait kegagalan keamanan dan penanganan perang.
Penghitungan Awal Belum Menghasilkan Mayoritas
Berdasarkan laporan Reuters pada 28 Oktober 2026, penghitungan awal menunjukkan blok Netanyahu diproyeksikan memperoleh sekitar 53 kursi, sedangkan blok oposisi yang dipimpin Eisenkot diperkirakan meraih 48 kursi. Partai-partai Arab diproyeksikan memperoleh total 19 kursi.
Angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring berlanjutnya penghitungan suara. Namun, hasil awal memperlihatkan bahwa kedua blok utama belum mencapai ambang mayoritas 61 kursi dari total 120 anggota Knesset.
Situasi ini membuat pembentukan pemerintahan bergantung pada negosiasi politik dengan partai-partai lain. Dukungan dari kelompok yang tidak tergabung secara langsung dalam kedua blok utama dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah pemerintahan berikutnya.
Netanyahu dan Eisenkot Saling Klaim Dukungan Politik
Netanyahu menyerukan pembentukan pemerintahan nasional sayap kanan yang kuat. Ia berupaya mempertahankan kekuasaan dengan mengandalkan pengalaman di bidang keamanan serta hubungan strategis Israel dengan Amerika Serikat.
Namun, kepemimpinannya menghadapi kritik atas kegagalan mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Persoalan pertanggungjawaban atas kegagalan keamanan tersebut menjadi salah satu isu utama selama kampanye.
Di sisi oposisi, Eisenkot, mantan kepala militer Israel dan pemimpin Partai Yashar, menyatakan bahwa hasil pemilu mencerminkan penolakan terhadap kelanjutan kepemimpinan Netanyahu. Eisenkot mendorong perubahan pemerintahan dan penyelidikan atas kegagalan keamanan yang terjadi pada 2023.
Meski demikian, belum ada pihak yang dapat memastikan kemenangan politik karena pembentukan pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh jumlah suara, tetapi juga kemampuan mengumpulkan dukungan mayoritas di parlemen.
Negosiasi Koalisi Menjadi Penentu
Dengan tidak adanya blok yang mencapai mayoritas, proses negosiasi koalisi diperkirakan menjadi tahap krusial setelah pemilu. Partai-partai kecil dan kelompok politik di luar dua blok utama berpotensi memengaruhi siapa yang memperoleh kesempatan membentuk pemerintahan.
Partai-partai Arab diproyeksikan memegang posisi penting dalam perhitungan kursi, meskipun kerja sama dengan kelompok tersebut menghadapi hambatan politik dari sejumlah pihak.
Proses pembentukan pemerintahan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Jika para pemimpin partai gagal menyepakati koalisi yang memiliki dukungan mayoritas, Israel berpotensi menghadapi kebuntuan politik berkepanjangan.
Dengan demikian, hasil awal pemilu belum mengakhiri persaingan antara Netanyahu dan Eisenkot. Arah pemerintahan Israel berikutnya masih bergantung pada hasil penghitungan akhir serta kesepakatan politik setelah pemungutan suara.