JAKARTA, TDN Media — Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan bensin nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyiapkan strategi pengembangan bahan bakar nabati berbasis etanol untuk mengurangi ketergantungan tersebut, salah satunya melalui rencana penerapan campuran etanol hingga 50 persen atau E50.
Dalam Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) di Jakarta, Senin (12/10/2026), Bahlil menjelaskan bahwa konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, produksi bensin dalam negeri diperkirakan baru berada di kisaran 18 juta hingga 19 juta kiloliter per tahun.
Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi domestik tersebut membuat Indonesia masih memerlukan pasokan dari luar negeri untuk memenuhi permintaan bahan bakar.
Pemerintah kini berupaya mengurangi ketergantungan impor melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi domestik, termasuk bahan bakar nabati.
Salah satu strategi yang disiapkan pemerintah adalah pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin. Program ini direncanakan berlangsung secara bertahap, dengan target peningkatan kadar campuran etanol hingga E50.
E50 merupakan bahan bakar dengan komposisi 50 persen etanol dan 50 persen bensin. Sebelum mencapai tahap tersebut, pemerintah merencanakan penerapan campuran etanol dalam kadar yang lebih rendah, dengan mempertimbangkan kesiapan industri dan ketersediaan bahan baku.
Bahlil sebelumnya menyampaikan rencana penerapan E10 mulai 2027, kemudian peningkatan menuju E20 pada 2028. Tahapan berikutnya akan disesuaikan dengan perkembangan kapasitas produksi dan kesiapan industri dalam negeri.
Pemerintah juga mempertimbangkan agar kebijakan mandatori bioetanol tidak justru menciptakan ketergantungan baru terhadap impor etanol. Karena itu, ketersediaan bahan baku dan kemampuan produksi domestik menjadi bagian penting dalam penyusunan peta jalan program tersebut.
Untuk mendukung pengembangan bioetanol, pemerintah mempertimbangkan sejumlah komoditas pertanian sebagai sumber bahan baku, antara lain tebu, singkong, dan jagung.
Bahlil menyebut pemerintah telah memetakan sejumlah wilayah potensial untuk mendukung penyediaan bahan baku. Pengembangan industri bioetanol diharapkan dapat membuka pasar baru bagi hasil pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah penghasil komoditas tersebut.
Dengan adanya permintaan dari sektor energi, komoditas pertanian yang digunakan sebagai bahan baku bioetanol berpotensi memperoleh tambahan pasar. Namun, realisasi manfaat tersebut akan bergantung pada kesiapan fasilitas produksi, rantai pasok, serta keberlanjutan pasokan bahan baku.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa pengembangan bahan bakar nabati berjalan dengan memperhatikan kebutuhan pangan dan pemanfaatan lahan.
Strategi pengembangan E50 mengikuti pendekatan yang sebelumnya diterapkan pada program biodiesel B50 untuk bahan bakar solar.
B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar fosil. Pemerintah menjadikan program tersebut sebagai salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan impor solar melalui pemanfaatan sumber daya domestik.
Penerapan penuh B50 mulai 1 Oktober 2026 setelah masa transisi distribusi menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional.
Melalui pendekatan serupa, pemerintah berharap pengembangan bioetanol dapat mengurangi kebutuhan impor bensin secara bertahap. Meski demikian, penerapan E50 masih memerlukan kesiapan industri, kecukupan bahan baku, dan pengembangan infrastruktur pendukung.
Rencana pengembangan E50 menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh penetapan target pencampuran etanol.
Kapasitas produksi bioetanol, ketersediaan bahan baku sepanjang tahun, standar mutu bahan bakar, serta kesesuaian dengan kendaraan yang digunakan masyarakat menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa produksi etanol domestik mampu memenuhi kebutuhan industri sebelum kadar campuran ditingkatkan lebih jauh.
Dengan strategi bertahap tersebut, pengembangan bioetanol diharapkan dapat membantu mengurangi kebutuhan impor bensin sekaligus memperluas pemanfaatan sumber daya pertanian Indonesia.