Citra satelit NASA’s Eyes on the Earth pada 19–21 Oktober 2026 memperlihatkan sebaran gas karbon monoksida (CO) yang meliputi wilayah luas di Indonesia. Visualisasi dengan dominasi warna merah ini menjadi sorotan di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah daerah.
Direktur Layanan Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Marjuki, menjelaskan bahwa karbon monoksida merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang terbentuk ketika bahan terbakar secara tidak sempurna. Sumbernya antara lain pembakaran kayu, gambut, serta emisi kendaraan bermotor.
Menurut Marjuki, visualisasi NASA tersebut kemungkinan menunjukkan konsentrasi CO di atmosfer pada ketinggian sekitar lima kilometer di atas permukaan Bumi. Satuan ppbv pada peta menggambarkan jumlah molekul CO dalam setiap satu miliar molekul udara. Sementara itu, warna merah pekat menunjukkan nilai yang mencapai batas atas skala visualisasi, yakni 160 ppbv.
Tingginya konsentrasi CO dapat berkaitan dengan aktivitas pembakaran, termasuk karhutla. Sebaran gas ini juga bisa beririsan dengan wilayah yang memiliki banyak titik panas atau hotspot. Meski demikian, titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi satelit dan tidak selalu berarti kebakaran telah terkonfirmasi di lokasi tersebut.
Salah satu sumber karbon monoksida dari karhutla adalah kebakaran lahan gambut. Ketika terbakar, gambut dapat membara di bawah permukaan tanah dengan pasokan oksigen terbatas sehingga menghasilkan karbon monoksida dalam jumlah besar. Gas tersebut dapat bertahan di atmosfer selama beberapa minggu.
Namun, Marjuki menegaskan bahwa dominasi warna merah pada peta NASA tidak serta-merta berarti kualitas udara di permukaan tanah buruk atau berbahaya bagi kesehatan. Hal ini karena data tersebut menggambarkan konsentrasi CO pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, bukan secara langsung kondisi udara yang dihirup masyarakat.
Untuk mengetahui kualitas udara yang berpotensi berdampak pada kesehatan, masyarakat perlu memperhatikan indikator lain, termasuk konsentrasi partikel halus PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru saat terhirup.
Marjuki menyarankan agar kondisi udara di suatu kota diperiksa melalui data PM2.5 dari stasiun pemantauan kualitas udara. Dengan demikian, peta CO NASA lebih tepat digunakan untuk memahami persebaran gas di atmosfer, bukan sebagai satu-satunya acuan untuk menentukan tingkat bahaya kualitas udara di permukaan.