Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, menyampaikan permintaan maaf setelah kehadirannya dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, menuai polemik.
Permintaan maaf Raffi Ahmad tersebut disampaikan menyusul munculnya kritik masyarakat terhadap kegiatan yang digelar pada Kamis (29/10/2026). Acara yang semula dimaksudkan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda itu menjadi sorotan setelah identitas sejumlah peserta dipertanyakan.
Raffi mengaku tidak memiliki maksud buruk ketika menghadiri kegiatan tersebut. Ia juga menyadari bahwa kehadirannya di acara yang kemudian menuai kontroversi telah menimbulkan beragam tanggapan dari masyarakat.
Dalam klarifikasinya, Raffi menjelaskan bahwa dirinya datang sebagai tamu undangan, bukan sebagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara. Ia menyebut undangan tersebut baru diterimanya pada malam sebelum kegiatan berlangsung.
Menurut penjelasannya, penyelenggara deklarasi adalah Polda Metro Jaya. Raffi juga menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam proses perencanaan maupun penyusunan rangkaian acara.
Ia mengaku datang dengan niat baik untuk ikut memaknai peringatan Sumpah Pemuda. Namun, kejadian tersebut menjadi pembelajaran baginya agar lebih berhati-hati dalam menerima undangan dan memahami latar belakang kegiatan yang akan dihadiri.
Raffi turut menyampaikan apresiasi atas kritik dan masukan masyarakat. Ia berharap klarifikasi yang diberikan dapat membantu menjelaskan posisinya dalam kegiatan tersebut.
Acara bertajuk Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 itu berlangsung di kawasan Pospol Bundaran HI, Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Polda Metro Jaya untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 dengan mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”.
Selain Raffi Ahmad, kreator konten Willie Salim juga hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran sejumlah tokoh publik itu kemudian menjadi perhatian setelah muncul pertanyaan mengenai keaslian identitas peserta yang mengenakan atribut beberapa perguruan tinggi.
Polemik semakin berkembang setelah beredar video wawancara dengan sejumlah peserta yang tidak dapat menjelaskan secara jelas identitas maupun asal perguruan tinggi yang mereka wakili.
Salah satu peserta yang menjadi sorotan adalah Bayu Setiadi, yang sebelumnya terlihat mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira).
Dalam klarifikasinya melalui video yang diunggah oleh akun BEM Undira, Bayu mengakui bahwa dirinya bukan mahasiswa universitas tersebut. Ia juga menyebut kehadirannya dalam deklarasi didasarkan pada undangan dari sebuah komunitas dan mengaku menerima bayaran.
Bayu turut menjelaskan bahwa jas almamater yang dikenakannya diberikan oleh pihak lain. Ia mengaku tidak mengetahui asal-usul atribut tersebut ketika menerimanya.
Pengakuan itu kemudian memperbesar polemik karena peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut menggunakan identitas kampus yang bukan merupakan tempat mereka menempuh pendidikan.
Kasus ini memunculkan pertanyaan mengenai proses perekrutan peserta dan pihak yang bertanggung jawab atas penggunaan atribut perguruan tinggi dalam acara tersebut.
Menanggapi polemik yang berkembang, Polda Metro Jaya melalui Kabid Humas Kombes Budi Hermanto turut menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat pada Sabtu (31/10/2026).
Pihak kepolisian mengakui bahwa kegiatan tersebut menimbulkan beragam tanggapan publik. Kritik yang disampaikan masyarakat disebut akan diterima sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan berikutnya.
Budi juga menegaskan bahwa Raffi Ahmad dan Willie Salim hadir sebagai tamu undangan atas undangan Polda Metro Jaya selaku penyelenggara. Menurutnya, keduanya datang dengan niat baik untuk turut memaknai peringatan Sumpah Pemuda.
Sementara itu, dugaan keterlibatan peserta yang bukan mahasiswa dalam deklarasi tersebut juga menjadi perhatian kepolisian. Polda Metro Jaya menyatakan bahwa dugaan mahasiswa gadungan sedang dalam penyelidikan.
Polemik deklarasi ini menjadi perhatian karena berlangsung di tengah peringatan Hari Sumpah Pemuda yang identik dengan perjuangan dan aspirasi generasi muda.
Penggunaan atribut perguruan tinggi oleh peserta yang bukan mahasiswa kampus terkait turut memunculkan persoalan mengenai keabsahan identitas peserta dan proses penyelenggaraan kegiatan.
Permintaan maaf dari Raffi Ahmad maupun Polda Metro Jaya menjadi respons atas kritik yang berkembang di masyarakat. Namun, sejumlah pertanyaan mengenai pihak yang merekrut peserta, pemberian bayaran, serta penggunaan atribut kampus masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Polda Metro Jaya menyatakan akan menjadikan polemik tersebut sebagai bahan evaluasi, sementara penyelidikan terhadap dugaan penggunaan identitas mahasiswa secara tidak benar masih berlangsung.