Ratusan Santri Ponpes Abul Barokat NTB Dijemput Orang Tua Usai Dugaan Kekerasan Seksual
Sejumlah orang tua santri Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), memilih menjemput anak-anak mereka setelah muncul dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan pimpinan pondok pesantren tersebut.
Proses penjemputan dilakukan pada Selasa (22/9/2026), setelah pihak pesantren memutuskan meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar karena situasi yang dinilai tidak kondusif.
Sebagian wali santri menyatakan tidak akan mengembalikan anak mereka untuk melanjutkan pendidikan di pesantren tersebut karena mengkhawatirkan keselamatan mereka.
Pengurus Komite Pondok Abul Barokat, Sahfan, mengatakan keputusan meliburkan sementara kegiatan pesantren dilakukan karena kondisi lingkungan belajar belum memungkinkan berjalan normal.
Saat ini, Ponpes Abul Barokat diketahui memiliki sekitar 800 santri laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai daerah, termasuk NTB dan Kalimantan.
Pihak pesantren masih menunggu perkembangan terkait kasus dugaan kekerasan seksual yang menjadi perhatian publik.
Kasus dugaan kekerasan seksual tersebut sebelumnya telah dilaporkan ke Polres Lombok Tengah. Pusat Bantuan Hukum (PBH) Universitas Mataram yang mendampingi korban menyebut telah menyerahkan tambahan alat bukti kepada pihak kepolisian.
Pendamping korban menyatakan terdapat sejumlah korban dalam kasus tersebut dan proses pengumpulan bukti masih berlangsung.
Sementara itu, Polres Lombok Tengah menyatakan akan memprioritaskan penanganan kasus tersebut serta memastikan hak-hak para santri yang membutuhkan perlindungan tetap diperhatikan.
Sejumlah wali santri mengaku memilih memulangkan anak mereka karena merasa khawatir dengan adanya dugaan kasus tersebut.
Salah satu wali santri menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin anaknya kembali belajar di pesantren tersebut hingga ada kejelasan mengenai kasus yang sedang ditangani.