Serangan udara yang dilaporkan dilancarkan Rusia menghantam sebuah sekolah di Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, pada Senin, 2 November 2026. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 26 orang, menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan layanan darurat setempat.
Lokasi yang terkena serangan bukan sedang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Bangunan sekolah tersebut difungsikan sebagai tempat berlindung sekaligus lokasi pembagian bantuan kemanusiaan bagi warga yang masih tinggal di kawasan tersebut.
Serangan ini menambah daftar korban sipil di tengah konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung.
Menurut keterangan Zelensky, sekolah di Komyshuvakha secara rutin digunakan untuk membagikan bantuan kemanusiaan kepada warga setiap hari Senin.
Dalam pernyataannya, Zelensky menyebut serangan terjadi ketika warga mulai berdatangan untuk menerima bantuan. Setelah serangan pertama, lokasi perlindungan tersebut kembali dihantam gelombang serangan udara berikutnya.
Ia menilai keberadaan warga di lokasi tersebut seharusnya dapat diketahui karena kegiatan pembagian bantuan dilakukan secara rutin. Namun, pernyataan mengenai pengetahuan dan maksud serangan tersebut merupakan tuduhan dari pihak Ukraina.
Layanan darurat Ukraina melaporkan bahwa korban meninggal dunia mencakup dua anggota tim penyelamat dan empat personel kepolisian.
Sementara itu, lima orang lainnya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Dua di antaranya merupakan petugas penyelamat yang turut terdampak dalam insiden tersebut.
Proses pencarian dan evakuasi korban dilakukan oleh petugas darurat bersama aparat terkait. Upaya penyelamatan berlangsung di tengah kondisi lokasi yang rusak akibat hantaman bom.
Presiden Volodymyr Zelensky mengecam serangan tersebut dan menilai kejadian itu menunjukkan memburuknya situasi keamanan bagi warga sipil di wilayah dekat garis depan.
Ia juga menghubungkan insiden tersebut dengan upaya kemanusiaan yang sebelumnya berlangsung di Oleshky, wilayah Kherson. Gencatan senjata lokal selama enam hari yang memungkinkan pengiriman bantuan dan evakuasi warga di kawasan itu telah berakhir sehari sebelum serangan di Komyshuvakha.
Pemerintah Ukraina menilai serangan terbaru tersebut bertentangan dengan upaya mengurangi ketegangan dan memperluas bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak perang.
Dampak serangan juga merembet ke ranah diplomatik dan olahraga internasional. Menteri Luar Negeri Ukraina menyerukan agar negara-negara lain tidak mendukung keterlibatan Rusia dalam kompetisi olahraga internasional.
Seruan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap serangan yang menewaskan warga sipil, termasuk petugas penyelamat dan polisi.
Ukraina memandang partisipasi Rusia dalam ajang olahraga internasional perlu dikaitkan dengan perkembangan konflik dan tindakan militernya. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari upaya diplomatik Kyiv untuk mempertahankan tekanan internasional terhadap Moskow.
Hingga laporan terbaru, otoritas Ukraina masih melakukan penanganan di lokasi serangan serta mendata dampak yang ditimbulkan. Jumlah korban yang semula dilaporkan lebih rendah kemudian meningkat menjadi 26 orang seiring perkembangan proses pencarian.
Peristiwa di Komyshuvakha kembali memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi masyarakat sipil di wilayah konflik, terutama ketika fasilitas yang digunakan untuk perlindungan dan penyaluran bantuan ikut terdampak serangan.