Serangkaian serangan drone di Sudan menewaskan puluhan orang dalam beberapa hari terakhir di tengah konflik berkepanjangan antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Penggunaan drone yang semakin meningkat turut memperbesar risiko jatuhnya korban sipil.
Serangan paling mematikan terjadi di dekat pasar di Kota al-Dabba, wilayah West Kordofan, pada Minggu malam. Menurut warga dan petugas medis, sebuah drone menyerang pusat transportasi yang dipenuhi warga desa yang sedang mencari kendaraan untuk pulang setelah beraktivitas di pasar. Sebanyak 80 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Sebanyak 47 korban luka dibawa ke Kota al-Mujlad untuk mendapatkan perawatan. Namun, seorang sumber medis menyebut 30 di antaranya kemudian meninggal akibat luka yang diderita.
Pemerintahan bentukan RSF yang dikenal sebagai Tasis bersama kelompok Emergency Lawyers menuduh militer Sudan bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Di wilayah timur Sudan, sebuah sumber militer menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah drone RSF yang menargetkan Bendungan Atbara dan Setit di Negara Bagian Gadarif.
Sementara itu, serangan drone lainnya menghantam Kota Nyala, ibu kota South Darfur yang menjadi salah satu basis RSF, pada Senin dini hari. Sumber medis dan RSF melaporkan 17 orang tewas, termasuk tujuh perwira RSF, serta 23 orang terluka.
Serangan drone RSF pada Jumat sebelumnya juga menargetkan tempat berkumpulnya warga yang mengungsi di Provinsi Blue Nile, dekat perbatasan Ethiopia. Kelompok Emergency Lawyers melaporkan 41 orang tewas dalam serangan tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam serangkaian serangan mematikan itu. Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyatakan pihaknya khawatir terhadap serangan drone yang terus menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, sekaligus mengganggu layanan penting.
Perang di Sudan pecah pada April 2023 setelah pemimpin militer Abdel Fattah al-Burhan dan komandan RSF Mohamed Hamdan Dagalo, yang dikenal sebagai Hemedti, berselisih mengenai rencana penggabungan RSF ke dalam militer.
Menurut pemantau konflik ACLED, sedikitnya 59.000 orang telah tewas sejak perang dimulai. Namun, organisasi kemanusiaan memperkirakan jumlah korban sebenarnya lebih tinggi.
PBB mencatat sekitar 13 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik tersebut. Tahun ini, sekitar 33,7 juta orang, termasuk 17,3 juta anak-anak, membutuhkan bantuan pangan mendesak. Sementara itu, diperkirakan 825.000 anak mengalami malnutrisi akut berat.
Amerika Serikat pada Jumat mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mendorong gencatan senjata kemanusiaan dan memperluas embargo senjata terhadap Sudan. Namun, China dan Rusia menentang perluasan embargo tersebut.