Yordania melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah selatan pada Senin (26/10/2026), setelah penembakan saat prosesi pemakaman di sebuah gereja Ortodoks Yunani di Karak, Yordania, menewaskan sembilan orang. Serangan tersebut memicu ketegangan antara kedua negara setelah otoritas Suriah melaporkan adanya korban sipil akibat gempuran tersebut.
Militer Yordania menyatakan serangan udara itu menargetkan lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian kelompok teroris di Suriah selatan. Pihak Yordania mengklaim operasi dilakukan berdasarkan informasi intelijen mengenai keterkaitan kelompok bersenjata di Suriah dengan para pelaku penembakan di gereja.
Namun, otoritas Suriah melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan sedikitnya tujuh warga sipil di Provinsi Daraa dan Suwayda. Korban termasuk perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia. Laporan tersebut bertentangan dengan klaim Yordania yang menyatakan serangan menyasar kelompok bersenjata.
Yordania menyatakan operasi militernya telah dikoordinasikan dengan pemerintah Suriah. Sebaliknya, Damaskus membantah menerima pemberitahuan atau melakukan koordinasi sebelumnya. Pemerintah Suriah mengecam serangan tersebut dan menyatakan penyelidikan akan dilakukan untuk mengungkap seluruh keadaan insiden.
Sebagai respons, otoritas Suriah sempat menutup perlintasan perbatasan Nassib yang menghubungkan kedua negara. Penutupan tersebut menghentikan sementara lalu lintas penumpang dan perdagangan di jalur perbatasan utama antara Yordania dan Suriah.
Sebelum serangan udara dilancarkan, aparat keamanan Yordania menangkap tiga orang yang terdiri dari dua bersaudara dan seorang kerabat mereka terkait penembakan di gereja. Ketiganya ditangkap setelah baku tembak dengan aparat di wilayah Karak.
Penembakan terjadi saat prosesi pemakaman di Gereja Ortodoks Yunani, Karak, pada Jumat (23/10/2026). Insiden tersebut menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa itu mendorong Raja Abdullah II memerintahkan penindakan tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab serta evaluasi prosedur keamanan.
Pemerintah Yordania menyatakan akan terus memburu pihak-pihak yang terlibat dalam serangan tersebut. Sementara itu, pemerintah Suriah dan Yordania menghadapi tekanan untuk mengusut korban sipil akibat serangan udara sekaligus mencegah ketegangan di wilayah perbatasan semakin meningkat.